Minggu, 18 Agustus 2019

Telat masuk kerja bukan sekedar kehilangan penghasilan


Seringkali kita mendengar, ah gak papa telat, toh Cuman dipotong 0,5% sampai 3% tunjangan kinerjanya. Memang kalau Cuma soal tunjangan di potong, buat beberapa orang itu hal kecil (note : tapi kalo buat saya ya tetep besar),  tetapi ada yang lebih besar dampaknya dari keterlambatan atau pulang lebih cepat, yaitu hukuman disiplin.  Kemarin ketika saya melakukan audit ketaatan ke perangkat daerah, ternyata Banyak yang tidak tahu bahwa akumulasi  keterlambatan dan pulang yang lebih cepat dari jam kerja  7,5 jam itu disamakan dengan tidak hadir selama sehari dan itu  dihitung secara kumulatif  dalam satu tahun (penjelasan pasal 3 angka 11 PP 53 tahun 2010). Mereka beranggapan bahwa kalo telat ato pulang lebih cepat tidak masalah dengan hukuman disiplin kecuali kalau tidak masuk kantor. Ini sih bagi saya cukup memprihatinkan, karena aturan yang mengatur akumulasi datang terlambat dan pulang lebih cepat ini sudah 9 tahun. 
Menurut saya persoalan akumulasi jam terlambat datang dan pulang lebih cepat ini bisa menjadi persoalan serius. Sebagai contoh disatu perangkat daerah ada PNS yang hampir setiap hari telat 25 – 45 menit sehingga setiap bulannya kalau diakumulasi dalam jam dia telat 12-18 jam  kalau diakumulasi sampai bulan juni saja dia sudah 14,95 hari. Artinya dipertengahan tahun si Oknum PNS ini dia setelah dilakukan proses pemeriksaan, sesuai dengan pasal 8 PP 53 tahun 2010, dia  dijatuhi hukuman disiplin ringan tertinggi yaitu pernyataan tidak puas secara tertulis. Kemudian ternyata  di bulan-bulan berikutnya dia terlambat juga maka sebagaimana penjelasan Pasal 14 PP 53 tahun 2010,  jumlah akumulasi keterlambatan dan pulang lebih cepat  dari januari-juni tersebut ditambah keterlambatan dan pulang lebih cepat di bulan  selanjutnya  misalnya 16,5 jam sehingga  selama setahun akumulasi keterlambatan dan pulang lebih cepat menjadi  2 hari. Sehingga kalo menurut  Pasal 9 PP 53 Tahun 2010, oknum PNS tersebut harus dijatuhi hukuman disiplin sedang yaitu penundaan kenaikan gaji berkala selama setahun.  Ini kalo telatnya cuman 30 menitan sj seperti oknum di salah satu dinas ini, la kalo telatnya sampai sejaman itu setahun bisa lebih dari 30 hari yang berarti bisa hukuman disiplin berat. Jadi...... siapa bilang telat absen Cuma berkurang penghasilannya????

Selasa, 30 Juli 2019

UMROH BUKAN PENGGANTI HAJI


Judul ini saya meniru dari status seorang guru, yang mungkin mempunyai pemikiran yang sama dengan saya, yang mempunyai kegelisahan yang sama dengan saya. Sebenranya saya sudah lama pingin nulis tentang hal ini. Tetapi baru terinspirasi untuk menulis hari ini.
Kegelisahan saya dimulai karena melihat berbondong-bondongnya orang untuk umroh dari pada antri berangkat haji dengan alasan naik haji antrinya panjang toh sama-sama bisa melihat ka’bah. Mereka bahkan sampai menjual tanah atau barang yang mereka punyai demi bisa melaksanakan umroh. Kalo dulu biasa ada haji wahyu, haji karena sawahnya payu alias laku. Saya pikir its okey... untuk melaksanakan kewajiban memang harus di dahulukan. Ini mungkin imbas dari keberhasilan iklan umroh baik iklan secara nyata maupun agen umroh yang biasanya merupakan orang-orang yang sesungguhnya ilmu agamanya juga sudah mumpuni.  Ini yang mestinya harus diluruskan. Dari Segi hukum sudah beda, haji merupakan rukun islam dan merupakan kewajiban  kalau ngak dikerjakan berdosa walau ada syaratnya mampu, sedangkan umroh itu hanya sunnah, dikerjakan dapat pahala ngak dikerjakan ya gak papa. Jadi kalau ada orang yang sudah berumroh tetapi belum haji atau belum punya porsi haji, maka menurut saya dia wajib haji (dengan kata wajib harus di beri huruh besar dan miring), karena keberangkatan umrohnya menandakan kalau dia adalah orang yang mampu baik secara materi maupun fisiknya, sehingga bila tidak haji setelah berumroh maka ia menanggung dosa.  Ini menjadi tugas kita semua untuk Mendudukkan sesuatu pada tempatnya, memberikan pemahaman bahwa mendahulukan yang wajib baru setelahnya sunnah. Saat ini berangkat haji memang harus antri bertahun-tahun untuk berangkat. Tetapi kalau menurut saya yang penting kita sudah niat dan berikhtiar dengan membayar bpih biaya penyelenggaraan ibadah haji. Soal berangkat kapan, kita tunggu sampai tahun berapa kita jadwalnya berangkat dan tentu semua kita serahkan sama Yang Kuasa. Dengan membayar bpih, maka kita sudah gugur kewajiban.  Dan kalau rindu ka’bah kita bisa umroh kalau ada rezeki.


Kewajiban berhaji tentu tidak sekedar dapat melihat ka’bah atau dapat sholat di haromain, tetapi kita akan menjalankan sebuah syariat yang penuh perjuangan, di dalamnya ada sunnah, wajib syarat rukunnya. Banyak ritual yang hanya ada di haji seperti ritual arofah minna.
Sebenarnya kalau dihitung hitung biaya haji itu lebih murah dari umroh, untuk umroh yang reguler 9 hari itu biaya rata-rata berkisar antara 22-30 juta padahal 9 hari itu sudah kepotong 2 hari perjalanan pulang pergi jadi praktis tinggal 7 hari, 3 hari di madinah, 4 hari di mekah.  Padahal biaya haji cuman 37 juta itupun untuk 40 hari plus livingcost sebanyak 1500 real atau setara Rp. 6.000.000,-  apalagi katanya yang dulu zaman saya haji dapat makan itu hanya saat di madinah dan di arofah mina, sekarang di mekah pun kita dapat makan. Itu secara materi. Secara rohani, saat ibadah haji dengan waktu 40 hari kita akan dapat keuntungan yang luar biasa, karena kita bisa sholat arbain, kita dapat melakukan sholat tanpa judul apapun, kita bisa thowaf sepuasnya, dan kita bisa iktikaf di masjidil haram dan masjid nabawi sepuasnya (ini yang ngak akan kita dapatkan saat umroh reguler karena waktunya terbatas, dan siang hari kita habiskan buat ziarah) dan kita pun bisa umroh berkali-kali. Dan semua itu tentu nikmat yang sangat berarti.

Kamis, 25 Juli 2019

PERJALANAN KAMI BERSAMA Umroh backpacker


Perjalanan kami Berawal dari permintaan anak ragil saya mahira, yang minta ke turki di pertengahan 2017 setelah saya pulang dari dinas luar ke azerbaijan, georgia dan ukraina yang transit di turki. Awalnya kami menganggap permintaan yang ngak serius, tapi karena hampir tiap hari minta ke turki, saya pun coba-coba mencari informasi  dan mulai menabung juga. Dan Bulan januari salah satu teman saya upload foto turki dan di akhir tahun upload foto lagi umroh. Saya langsung nanya habis berapa dia, ternyata 27 juta per pax. Dapat info harga segitu tiba2 saya kok malah semangat dan sampai nadzar kalo anak sulung saya masuk sbpmtn uang persediaan untuk sekolah mandiri saya pakae untuk umrohin asisten rumah tangga saya. Dan benar kata pepatah  ada niat disitu jalan. Di Bulan maret setelah cari-cari info, saya ketemu dengan koord group ubepe, ms fauzan tapi via wa.  Ngurus pasport agar bisa beli tiket n saat beli tiket lumayan dpt diskon krn hira masih 6 tahun kalo di travel lain mungkin ini kyk DP.  Sampai sini pun sebenarnya saya masih binggung bisa ngak ya  bayar LA (land arrangement) untuk 6 pax yang harganya 1 pax  $1.060. blm lg harus bayar tiket surabaya singapura dan cengkareng juanda. Untuk 2 tiket ini jujur saya akhirnya nyicil ke teman saya dan baru bln oktober lunas padahal belinya tiket bln mei. Untung punya teman baik hati dan tidak sombong




Setelah periode itu saya harus benar2 berhitung  Ternyata di bulan Nopember kami mendapat undangan berbagai kegiatan dari beberapa kementerian.  Dan lewat jalan itulah biaya LA tercukupi sehingga akhir bulan nopember saya bisa melunasi biaya LA sebesar $6.360 saat ada kegiatan manasik haji di Asrama haji sukolilo surabaya. dan sekali itu saya ketemu sama mas fauzan.


kalo mau belanja apapun itu. Dan hitungan saya sampai awal bulan desember saat akhir batas pembayaran saya masih kurang duit 10 jutaan. Tapi sebagaimana kami yakini ini untuk menyenangkan ibu saya, anak yatim dan asisten saya, pasti Alloh kasih rezeki dari pintu rezeki yang tidak kita sangka. Ngelu saya memikirkannya. Karena saya sudah berprinsip ngak akan ngutang ataupun jual barang untuk keperluan ke barat.


Dan tanggal 20 Desember kami berangkat jam 5.30 kami berangkat ke juanda di antar beberapa saudara, alhamdulillah semuanya lancar. Paling di imigrasi ditanya “ ini mo umroh ya bu? Kok Cuma 6 orang? Yang saya jawab iya, umroh, karena meeting point nya kita di singapure. Ada sedikit bingung ketika mendarat di cangi...maklum baru pertama kali ke singapure lewat jalur udara. Biasanya lewat laut via batam,. Akhirnya setelah ngisi form imigrasi, kita istirahat, mau jalan2 takut ngak cukup waktunya. Tidak lama kemudian kami ketemu sama mas anton candra yang hari itu jadi tour leader kami dan mba ana dari semarang. Kemudian satu persatu anggota rombongan kami kumpul.  Dan sorenya kita terbang ke saudi arabia.
Setiba di Jeddah, kita ternyata sudah dijemput local guidenya dan sdh siap pula bus yang akan membawa kami ke madinah. Sampai madinah sdh jam 3 pagi  kami langsung dibawa ke hotel yang alhamdulillah dekat dari masjid nabawi, Cuma 100 meter doang. Karena deket habis meletakkan koper banyak dari kami yang langsung ke masjid kecuali saya karena si kecil mahira harus istirahat. Walau judulnya umroh kami ini backpacker, alhamdulillah itu hanya judulnya saja karena kami tidur di hotel yang lumayan oke n deket lagi, kami pun mendapat makan 3x sehari, dan ada city tournya juga.

Setelah 3 hari di madinah kami pun diberangkatkan ke mekkah mukarromah. Dan alhamdulilah hotel kami juga tidak jauh dari masjidil haram, kira2  125 meteran. Dan bagus juga hotelny. Di mekkah pun kami dapat fasilitas makan 3x sehari, citytour 3 kali yang bisa kita pake miqot untuk umroh karena  kita ke jikronah, tan im dan hudaibiyah.
Setelah 5 hari 4 malam di mekah, kami berangkat ke jeddah untuk selanjutnya ke turki, tapi karena jarak waktu yang lumayan lama yaitu 7 dengan jadwal pesawat maka jadilah kami merasakan jadi backpacker  krn hrs tidur di kursi bahkan di lantai di bandara.
Setelah melalui perjalanan udara selama 3,5 jam, kami sampai diistambul, disini kami pun berpisah dengan teman-teman yang ikut ke cappodacia. Sementara kita karena di turki hanya 5 hari, maka dari istambul kita menyeberang menuju kota bursa dan menginap di hotel almira. karena kita dari daerah tropis maka ketika melihat salju di uludag kita semua kayak anak kecil yang baru dapat mainan yang diiimpikan.   


Dari bursa kita kembali ke istambul kita nginap di mercure, kita keliling kota dari selat bhosporus, jaket kulit, aghia sofia, grand bazaar, blue mosque sampai pierre lotte.
Dari 14 hari perjalanan kami dengan timnya mba butet ubepe, kami cukup puas menikmati layanan baik transportasi, akomodasi maupun kosumsinya. Sehingga bila Alloh melapangkan rezeki kami, sehingga kami bisa berangkat umroh plus lagi kami berencana tetep lewat umroh backpacker nya mba butet ubepe apakah itu lewat group nya mas fauzan atau yang lain. Mekanisme umrohnya yang membuat orang seperti saya yang punya keterbatasan sumber dana bisa umroh plus. Fabiayyiala irobbikuma tukaddziban.